Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan

0
314

Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan

Sejumlah warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Bhinneka menggelar aksi seribu lilin di Jalan Veteran, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (21/11/2016) malam.

Aksi itu digelar untuk merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Koordinator aksi, Nanda Pratama mengatakan, melalui 1.000 lilin itu, ia berharap Indonesia tidak pecah karena persoalan keyakinan yang beragam.

“Seribu lilin damai ini secara khusus mendoakan agar Indonesia ke depan semakin damai. Supaya kuat merawat kebhinnekaannya,” katanya, seperti dilansir Kompas.com.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah teror yang terjadi di berbagai daerah. Seperti di Samarinda yang meneweskan satu orang bocah.

Menurutnya, aksi seperti itu bisa memancing perpecahan NKRI.

“Dengan aksi ini, ke depan kita tidak diam terhadap isu-isu perpecahan, tidak diam terhadap ancaman kebhinnekaan,” jelasnya.

Aksi itu terdiri dari berbagai elemen. Namun mereka melebur jadi satu dengan nama Aliansi Masyarakat Bhinneka.

“Kita terdiri dari berbagai elemen mahasiswa. Tapi saya sepakat untuk tidak menggunakan lembaga masing-masing. Kita melebur jadi bineka Malang,” jelasnya.

Ia sengaja menjadikan lilin sebagai simbol dalam aksinya. Sebab lilin, menurutnya, adalah simbol perdamaian.

Suster Annunciata PIJ mengatakan, ada pihak-pihak yang merasa terusik dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Hal itu, menurutnya, akan menjadi embrio perpecahan di negeri ini.

“Oleh karena itu, saya merasa terpanggil saja untuk mengikuti kegiatan seperti ini,” ungkapnya.

Khusus di Malang, ia dan umat kristen yang lain selalu menjaga jalinan silaturahmi dengan umat agama lainnya. Seperti selalu berkunjung ke rumah tokoh umat Islam saat Lebaran tiba.

Di Ambarawa

Ada pemandangan yang menyejukkan batin tatkala menyaksikan Gema Keragaman Nusantara Masyarakat Kabupaten Semarang yang digelar di Gedung Serbaguna Gotong Royong, Ambarawa, Selasa (22/11/2016) malam.

Ratusan umat berbagai agama berbaur jadi satu, menjalin persaudaraan dalam bingkai kebhinnekaan.

Simbol-simbol agama yang hadir di tempat itu tidak menjadikan mereka menjaga jarak satu sama lain.

Seorang biarawati yang berkalung salib dan seorang perempuan berjilbab putih terlihat duduk berdampingan bersimpuh di lantai yang sama dan saling bersenda gurau saat melihat tarian Rantaya.

Tarian doa ini dibawakan dengan apik oleh anak-anak dari SMP Mater Alma Ambarawa.

“Aku Septi, aku Muslim, dan ini Celin teman aku, agamanya Katolik,” kata Septi (14), siswa kelas VIII SMP Mater Alma, seusai pentas.

Tak hanya itu, penampil lain dalam acara itu juga merepresentasikan keragaman iman dan budaya yang tidak pernah tersekat-sekat.

Ada KH Amin Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Semarang, yang bertausiyah dengan tarian sufinya.

Ada Romo Aloysius Budi Purnomo, pastor paroki Kristus Raja Ungaran, dengan saksofonnya yang mengiringi tausiyah Budi Harjono.

Penyair kondang asal Kota Semarang, Timur Sinar Suprabana, membawakan dua puisi dari WS Rendra dan Gus Mus. Puisi itu kembali mengingatkan tentang kemanusiaan dan keindonesiaan.

Hadir juga meramaikan pertemuan budaya malam itu budayawan asal Pati, Habib Anis Sholeh Ba’asyin.

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Malam ini kita berbaur menjalin persaudaraan dalam bingkai kebinekaan,” kata Romo Budi.

Sumber : ucanews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here