Florentina Sri Utami: Sempat Menyangkal Talentanya

0
599

Florentina Sri Utami: Sempat Menyangkal Talentanya

Ia sempat ragu atas kemampuannya sebagai dokter dan lari dari tugas kedokteran. Akhirnya ia disadarkan, yang menyembuhkan adalah Tuhan sendiri. Kini ia siap menjadi alat-Nya.
Berbeda dengan teman-temannya, lulus dari Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 1991, Florentina Sri Utami hanya berdiam diri di tempat kos. Ia tak segera mendaftarkan diri ke Departemen Kesehatan (Depkes) untuk bisa menjalani praktik sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT). “Saya masih santai. Selama satu bulan saya di kos, berbenah dan mengurus berkas di kampus,” ungkapnya.
Kemudian ia bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) kesehatan di Yogyakarta atas tawaran seorang teman. Lulu, sapaannya, menerima pekerjaan tersebut, kala itu tugasnya di lapangan dan bukan berhadapan dengan pasien.
Ia bertugas untuk membuat posko obat, membentuk kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) serta melakukan monitoring masyarakat yang sakit Tuberkulosis (TBC) dan ibu hamil. Namun pekerjaan itu tidak lama ia jalani karena ia mendapat Surat Keputusan (SK) dari Depkes beberapa saat kemudian. Ia mendapat tugas untuk menjadi dokter PTT di Puskesmas Paliyan, Yogyakarta.
“Saya kaget juga karena SK turun begitu cepat. Saya menangis ketika tahu bahwa saya menjadi dokter PTT. Saya ditertawakan saudara saya karena teman- teman yang lain gembira bisa dapat SK dokter PTT, saya malah menangis. Saya merasa belum bisa apa-apa …,” kisah anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Meskipun demikian, sebagai dokter baru, Lulu melaksanakan saja tugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Paliyan. Tiga tahun di Paliyan, ia dipindahkan ke Puskesmas Karangmojo dan menjadi Kepala Puskesmas di sana. “Saya masih me rasa ragu waktu itu, apa bisa saya menjadi dokter …,” ujar perempuan kelahiran Situbondo, Jawa Timur, 26 Oktober 1965 ini.
Merasa Tidak Bisa
Lulu lahir dari keluarga guru. Ketika duduk di bangku SMA, Lulu kerap mem baca cerita tentang pelayanan Ibu Teresa dari Kalkuta. Kisah itu menginspirasi Lulu. Ia ingin bisa memberikan diri seperti Ibu Teresa. Dalam pikirannya, cara untuk bisa mewujudkan keinginan itu dengan menjadi perawat atau dokter.
Lulus SMA, ia pun mengikuti tes masuk di Akademi Keperawatan (Akper) Malang, Jawa Timur. “Saat tes di Akper, saya ditanya apa motivasi menjadi perawat? Saya bingung juga mesti menjawab apa.. Saya jawab saja ingin memakai baju putih,” kisah dokter Lulu.
Selain mendaftar di Akper, ia juga mendaftar di jurusan kedokteran, UGM Yogyakarta. “Ternyata saya diterima di kedokteran UGM, saya tidak menyangka. Waktu mengetahui di terima, saya bingung. Saya merasa berat juga harus meneruskan kuliah di kedokteran, jauh juga dari tempat tinggal saya.”
Waktu itu, Lulu tidak memberitahu orang tuanya perihal ia diterima di UGM. Salah seorang adik Lulu yang mengetahui hal itu segera menyampaikan kepada sang ibu. Akhirnya Lulu pun menjalani pendidikan di jurusan kedokteran. “Semua berjalan baik. Setelah empat tahun teori, saya harus koas di RS Sardjito. Di situ saya mulai ragu. Saya tidak suka orang sakit. Rasanya saya ingin lari.Saya merasa tidak bisa membantu mereka. Saya ingin mundur ketika koas,” ungkap perempuan yang ketika kuliah sempat aktif di Legio Mariae ini.
Merasa tidak sanggup menghadapi pasien, Lulu pun menghadap dosen pem bimbing dan mengatakan ingin mundur. Dosen pembimbing menyarankan agar Lulu tetap meneruskan pendidikannya hingga selesai. Mendapat motivasi dari dosen pembimbing, Lulu berusaha untuk menyelesaikannya.
“Saya ikuti saja, mengalir saja. Waktunya jaga ya jaga. Meski saya merasa jenuh, stres, ingin melarikan diri, namun saya coba untuk menjalani hingga akhirnya selesai pendidikan ke dok teran pada 1991,” ujarnya.
Setelah menjadi dokter PTT di Yogyakarta, ia menikah pada 1994. Setahun kemudian anak pertamanya lahir. Waktu itu, ia memilih untuk tidak bekerja, sementara sang suami bertugas di Irian Jaya.
Suatu hari Lulu menelepon Romo Ignatius Sandyawan Sumardi SJ di Jakarta dan menceritakan keadaannya. Romo Sandyawan menawarkan pekerjaan di Jakarta kepada Lulu. Tahun 1996, Lulu bekerja di kantor Institut Sosial Jakarta (ISJ) selama satu tahun. Sang suami juga akhirnya menyusul ke Jakarta.
Dari ISJ, kemudian Lulu bekerja menjadi dokter di sebuah klinik selama beberapa bulan, menggantikan teman dokter yang berhalangan praktik. Ia juga sempat menjadi relawan di Ambon selama tiga bulan untuk melayani orang-orang yang terkena dampak kerusuhan Ambon waktu itu. Setelah itu, ia kembali menganggur. Hingga ia memutuskan untuk mengikuti tes menjadi dokter di beberapa rumah sakit di Banten dan diterima sebagai dokter di RS Misi Rangkas bitung, Banten (2000-2007).
Membuka Diri
Dari RS Misi, Dokter Lulu mendapat tawaran untuk melayani sebagai dokter klinik di daerah Bumi Serpong Damai (BSD) dan dokter pengganti di sebuah klinik pabrik sepatu di Tangerang. Hingga ia diangkat sebagai dokter tetap di klinik pabrik sepatu itu dan meninggalkan klinik di BSD.
Awalnya ia merasa jenuh melayani di sana. Rasa jenuh itu perlahan hilang kala ia merasa menjadi bagian dari karyawan pabrik. “Setelah ikut bus jemputan bareng mereka, saling menyapa, bertukar cerita, pengalaman … saya merasa satu bagian dari mereka. Bos mereka, orang Korea saja begitu sayang kepada mereka, kenapa saya yang sama-sama orang Indonesia tidak membantu mereka. Dari situ saya merasa, saya ada gunanya ternyata di sini,” tutur Dokter Lulu sambil tersenyum.
Sejak 2007 hingga kini, Dokter Lulu melayani di klinik pabrik sepatu. Ia praktik pada Senin-Jumat, dari pagi hingga sore hari. Saat ini, ia juga melayani di sebuah klinik di BSD seminggu dua kali, Senin dan Rabu sore usai melayani di klinik pabrik sepatu.
Di celah kesibukan pekerjaan, ia ambil bagian dalam pelayanan di klinik Paroki St Monika BSD, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) BSD. “Tidak rutin, kalau pas bisa, ya saya ikut melayani.”
Salah satu perikop Kitab Suci yang menggetarkan hati dan menguatkannya yakni perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14-30). “Saya sering menangis kalau dengar Romo kothbah dengan mengacu ayat tentang talenta. Saya merasa saya tidak mau mengakui talenta yang Tuhan anugerahkan kepada saya,” ujarnya.
Seiring waktu, Dokter Lulu menikmati tugasnya sebagai seorang dokter. “Awal nya saya kurang percaya diri. Apakah saya bisa menyembuhkan pasien- pasien saya? Saya mengubah pola pikir saya itu. Yang menyembuhkan pasien itu bukan saya …. Semua saya serahkan kepada Tuhan. Dia yang memberikan kesembuh an,” tandas perempuan yang dikaruniai seorang putri dan dua putra-putri kembar ini.
Dokter Lulu berharap bisa terus melayani orang lain melalui profesinya. “Selama saya masih bisa bekerja, saya akan terus bekerja sebagai dokter. Saat inilah saya baru merasa menjadi dokter. Saya harus belajar terus seumur hidup saya. Saya bersyukur atas anugerah Tuhan. Semua sudah diberikan Tuhan… kadang saya kurang berterima kasih kepada-Nya,” demikian Dokter Lulu bercerita.
Maria Pertiwi

sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here