Gereja Katolik Indonesia hadapi kekurangan guru agama

0
589
Gereja Katolik Indonesia hadapi kekurangan guru agama
Seorang guru agama Katolik sedang mengajar pelajaran agama kepada siswa kelas VI SD di Provinsi Jawa Tengah

Dengan mengendarai sepeda motornya, Emilia Parjiyem, seorang guru agama Katolik, mengunjungi murid-muridnya satu per satu. Kadang-kadang ia melakukan kunjungan itu pada Jumat dan Sabtu, dan kadang-kadang pada hari Minggu.

“Sebagai seorang guru agama Katolik … saya memiliki kewajiban untuk mengunjungi mereka di rumah,” kata Parjiyem, seorang katekis, 50, di Semarang, Jawa Tengah.

Dia memiliki 13 siswa. Mereka belajar di berbagai sekolah di kota Semarang. Kadang-kadang hanya ada empat siswa Katolik di satu sekolah dan bahkan hanya satu siswa Katolik di setiap kelas.

Menurut Parjiyem, ia mulai mengajar setelah selesai mengikuti pelatihan di Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan St. Albertus di Yogyakarta tahun 1981. Ia mengatakan pengajaran agama Katolik sebagai mata pelajaran sekolah tidak selalu efektif untuk membantu siswa membentuk iman mereka.

“Itu sebabnya saya mengunjungi mereka di rumah,” jelasnya. “Saya juga ingin mengenal keluarga mereka.”

Baginya, mengajar agama Katolik adalah panggilan,  membutuhkan komitmen untuk membimbing anak-anak melalui perjalanan iman mereka.

“Mengajar agama bukanlah mimpi saya,” katanya,  mengenang bagaimana ia menjadi seorang guru. Tapi, hal itu berubah ketika ia harus memutuskan 35 tahun lalu, apakah  mengajar mata pelajaran  sekuler atau agama Katolik karena mata pelajaran ini adalah satu-satunya kesempatan kerja yang tersedia pada saat itu.

“Saya memutuskan untuk mengajar agama,” katanya, seraya menambahkan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dia melanjutkan belajar  di Institut Pastoral Indonesia di Bangkong, Semarang. Dia berencana untuk pensiun enam tahun mendatang.

Penuaan guru

Permintaan untuk katekis tetap tinggi di  Jawa Tengah dan di banyak bagian lain di negara ini. Namun, jumlah guru agama Katolik telah menurun karena penuaan dan kurangnya minat di kalangan kaum muda.

Menurut Kementerian Agama, sekitar 90 persen dari 815 guru agama Katolik di Jawa Tengah akan mencapai usia pensiun dalam empat tahun ke depan.

Sulardi Paulinus, Dirjen Bimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, mengatakan bahwa jika tidak ada upaya untuk meningkatkan jumlah mereka, tahun 2020, akan mengalami kekurangan 100 katekis aktif, dan kini semua berusia lebih dari 40 tahun.

“Kita perlu guru agama lebih banyak untuk menggantikan mereka yang pensiun,” kata Paulinus. “Juga, beberapa sekolah dengan siswa Katolik tidak memiliki guru agama di sana.”

Pastor Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Semarang, sepakat dengan Paulinus, mengatakan Gereja membutuhkan lebih banyak guru untuk menyebarkan pesan Kristus kepada anak-anak dan bimbingan.

“Katekis tidak hanya bekerja untuk mentransfer pengetahuan mereka kepada para siswa, tetapi juga menghidupkan iman mereka,” lanjut Pastor Yuniarto. “Bahkan beberapa guru mengajar tanpa dibayar.”

Kurangnya minat di kalangan pemuda

Keuskupan Agung Semarang memiliki dua pusat pelatihan guru: Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi dan Universitas Katolik Sanata Dharma.

Suster Maria Bertha OSF, direktur Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus  Assisi, mengatakan jumlah orang muda yang mendaftar setiap tahun rendah.

“Di sisi lain permintaan (umat) untuk guru agama tinggi setiap tahun,” katanya.

Demikian pula, Pastor F.X. Heryatno Wono Wulung, dekan Fakultas Pendidikan Katolik di Sanata Dharma di Yogyakarta, mengatakan bahwa kaum muda kurang tertarik untuk belajar tentang agama.

“Karena ada kekurangan guru agama, terutama di sekolah-sekolah negeri, mereka tanpa pelatihan yang baik untuk mengajarkan agama Katolik,” katanya. Beberapa sekolah mempekerjakan mantan biarawati, frater atau bruder untuk mengajar agama tanpa menguji pengetahuan mereka sebelumnya.

“Tapi, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun karena kita kekurangan guru terlatih,” katanya.

Sumber: ucanews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here