Pastor Josef Mohr MSF: Aku Betah, Bahkan Mau Mati di Tanah Kalimantan

0
667

Pastor Josef Mohr MSF Aku Betah Bahkan Mau Mati di Tanah Kalimantan

Pengantar Redaksi:
Selama 3 hari, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI bekerjasama dengan Komsos Keuskupan Banjarmasin dan Redaksi Majalah Keuskupan Ventimiglia menggelar program acara lokakarya menulis, fotografi, layout, dan jurnalisme bagi kaum muda Keuskupan Banjarmasin dan peminat dunia tampilan visual. Untuk keperluan ini, mereka mengundang tim Sesawi.Net sebagai fasilitator utama untuk mengisi program pelatihan non-stop dari pagi hari pukul 07.30 sampai menjelang larut malam.

Mewakili Sesawi.Net, Mathias Hariyadi dan Dionisius Bowo memberikan materi pelatihan ini. Tulisan berikut ini dan banyak tulisannya lainnya merupakan salah satu hasil ‘produk’ pelatihan khusus di bidang menulis dan proses memproduksi berita, foto, dan proses lay-out.

DEMIKIAN  ungkapan hati Pastor Joseph Richard Mohr MSF, pastor misionaris anggota Kongregasi Keluarga Kudus (MSF) asal Neuses – Jerman Tengah. Pastor Mohr – demikian nama sapaan akrab sehari-harinya—sekarang ini sudah sepuh. Usianya telah mencapai angka 77 tahun. Dari angka besar itu, 60 tahun lamanya telah dia lalui dengan berkarya di Indonesia. Khususnya di tanah Kalimantan yang dia selalu bilang sebagai ‘tanah airnya’ yang kedua setelah Jerman.

Kepada kelompok peserta Writing and Journalism Workshop bersama tim Sesawi.Net di Rumah Retret Wisma Sikhar di Banjarbaru sedikit di luar Ibukota Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Pastor Mohr MSF berkenan curhat tentang kesan-kesannya sebagai pastor misionaris asing di tanah Kalimantan. Bersama Davis, Orin, Anne, Risal, dan fotografer Dionisius Agus Puguh, kami berkesempatan menemui Pastor Mohr MSF di Kompleks Rumah Komunitas MSF Provinsi Kalimantan di Banjarbaru, Sabtu (10/5) siang untuk sebuah ‘projek’ wawancara untuk kepentingan latihan memproduksi berita ‘by design’.

Kawasan tropis
Wajah Pastor Joseph R. Mohr MSF selalu tampil ceria; bahkan selalu dibingkai dengan senyum tiada henti sepanjang hampir 1,5 jam wawancara mengenai kisah dan jejak kisah pelayanannya sebagai imam misionaris MSF Provinsi Kalimantan di tanah Borneo ini. Pastor Mohr mengaku tertarik menjadi imam misionaris untuk daerah-daerah tropis seperti Indonesi. Itulah cita-cita awal yang di kemudian hari telah mendorongnya masuk kongregasi religius imam-imam Misionaris eluarga kudus (MSF) Jerman setelah tamat Sekolah Menengah Umum pada tahun 1955 dan menjadi novis MSF setahun kemudian.

Selanjutnya mengikrarkan kaul I tanggal 8 September 1958 lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang Seminari Tinggi yang ditekuninya selama 6 tahun sampai tiba saat puncak yakni menerima tahbisan imamatnya di Jerman pada tanggal 29 Juni 1963.

Peristiwa tahbisan imamat tidak saja sebagai hal yang membahagiakan, melainkan juga merupakan titik awal memulai karya pelayanannya sebagai misionaris sebagaimana cita-citanya. Sang imam muda ini pun dengan senang hati rela diutus ke Indonesia dan tiba di Kalimantan pada tahun 1964.

Setelah tiba di Indonesia, ia langsung menerjunkan diri aktif menjalani program penyesuaian diri dengan bahasa dan budaya Dayak agar merasa tidak ragu-ragu melebur diri ke dalam hidup orang dan umat setempat. Semula, dia tetap merasa ‘asing’, namun kemudian malah mengaku asyik mashyuk melibatkan diri dalam khasanah budaya Dayak.

Bahkan tak jarang, demikian pengakuan Pastor Mohr MSF, ia mengaku sangat senang berkesempatan bisa sering mengikuti acara-acara ritual adat yang dilakukan oleh berbagai kelompok etnis Dayak di banyak wilayah di Kalimantan Tengah. Salah satu contohnya adalah rasa bangga dan senang bisa mengikuti acara ritual budaya Igal yakni prosesi minum tuak dengan gelas gading atau tanduk sapi dan kemudian menari-nari bersama.

Pastoral turne ke pedalaman
Pastor Mohr sudah hafal dunia Kalimantan, karena sudah 60 tahun berkelana menjelalajahi Bumi Borneo dengan cara melakukan perjalanan turne ke berbagai pedalaman dengan cara berjalan kaki, mengarungi sungai dengan kapal juga dengan bahkan sesekali berkuda. Orientasi pelayanan pastoralnya dia lakukan dengan semangat serius dan bersungguh-sungguh, tanpa melupakan semangat kekeluargaan sebagaimana dihayati oleh setiap anggota MSF.

Antuasiasme adalah membangkitkan semangat umat Dayak di pedalaman agar bersama-sama bergandengan tangan menghayati iman akan Yesus Kristus secara tepat dan benar. Ia menginginkan keaktifan di kalangan Umat Basis Gereja. Karena itu, ia selalu berharap agar siapa pun yang menjadi gembala atau petugas pastoral di pedalaman mampu memberdayakan umat hingga kemudian mereka pun mendapat perlakukan terhormat, dihargai, dicintai oleh umat. Dengan demikian, kata Pastor Mohr, terjadilah persaudaraan dalam iman.

“Gunakan hati nurani supaya kita tidak saling menindas tetapi sebaliknya saling mengasihi,” tandas pastor berpostur jangkung nan langsing ini.

Bulan-bulan terakhir ini, Pastor Mohr MSF lebih banyak menikmati kesehariannya di rumah Komunitas MSF di Banjar Baru dalam rangka pemulihan kesehatannya. Meski demikian, mimpinya sehari-hari adalah ingin segera kembali ke paroki pedalaman yang jaraknya kurang lebih 5 jam perjalanan dari Banjarmasin.

Hari-hari dia isi dengan banyak berdoa, sekaligus memberikan waktu khusus mengajar bahasa Latin kepada para frater postulant MSF.

Ditanya apa cita-citanya yang belum kesamapian sampai sekarang, Pastor Joseph Mohr MSF dengan gagah berujar: “Aku Betah, Bahkan Mau Mati di Tanah Kalimantan.”

Sumber: Sesawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here