Pemuda Katolik Bantu Orang Miskin Keluar Dari Kemiskinan

0
108

Pemuda Katolik Bantu Orang Miskin Keluar Dari Kemiskinan

Terdorong oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup para petani miskin, seorang pemuda Katolik yang kini berusia 29 tahun, Yoseph Leribun, rela pulang ke kampung halamannya di Labuan Bajo, Flores.

Ia menanggalkan profesinya sebagai jurnalis dan meninggalkan Jakarta pada tahun 2012 lalu.

Sebagai anak dari keluarga petani, ia pun sadar bahwa panggilannya adalah untuk meningkatkan taraf hidup ribuan petani yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

“Mereka sudah berada di situasi seperti ini sejak lama, tidak tahu bagaimana memaksimalkan potensi mereka,” katanya.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 5,2 juta penduduk. Sebanyak 55,4 persen di antaranya beragama Katolik, dan sekitar 1,1 juta orang hidup miskin.

Secara nasional, propinsi tersebut menduduki peringkat ketiga terkait angka kemiskinan. Peringkat pertama dan kedua adalah Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.

Di Kabupaten Manggarai Barat, kampung halaman Leribun, 42 persen dari jumlah penduduk hidup miskin. Sebagian besar adalah petani.

Ini merupakan realita yang memprihatinkan mengingat Labuan Bajo, sebagai ibukota kabupaten, telah diubah menjadi tempat wisata moderen. Wilayah ini terkenal atas komodo dan pulau-pulaunya yang indah.

Labuan Bajo juga menarik investasi besar untuk sejumlah proyek raksasa seperti bandar udara, pelabuhan, hotel dan resor.

Tahun lalu, sekitar 84.000 wisatawan mengunjungi wilayah itu. Pemerintah juga tengah menarik sebanyak 500.000 wisatawan untuk beberapa tahun mendatang.

Sayangnya, pembangunan semacam itu semakin meminggirkan warga setempat, sebagian besar petani.

“Saya terkejut ketika saya tahu bahwa suplai sayuran dan daging untuk hotel dan resor berasal dari wilayah lain, bukan dari warga setempat,” kata Leribun.

Ia pun terdorong untuk mempelajari suplai makanan. Secara perlahan-lahan, ia mengembangkan cara baru bercocok-tanam yang memungkinkan petani menjadi pemain utama dalam industri wisata, bukan sekedar penonton.

Pelopor Proyek

Pada akhir tahun 2012, Leribun mulai menanam sayuran dengan menggunakan pupuk organik. Ia juga beternak babi dan ayam. Ia hanya mengandalkan literatur dan panduan yang ada di internet karena ia tidak pernah mengikuti pelatihan sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, proyek kecilnya sukses. Hal ini mengilhami petani lain untuk mengikuti metodenya.

Ia lalu melatih petani dan memberi mereka modal kecil untuk menjalakan proyek mereka sendiri. Tidak butuh waktu lama bagi masing-masing petani untuk mendapatkan keuntungan bulanan sekitar Rp 700.000 – Rp 1.000.000 dari hasil menjual sayuran ke restoran dan warga setempat.

Melihat potensi tersebut, Leribun pun mendirikan Kampung Ternak. Di sini ia dan puluhan petani beternak ayam, babi dan ikan lele untuk dipasok ke restoran dan dijual kepada warga setempat.

Keberhasilannya dalam memberdayakan petani mendapat perhatian dari Yayasan Daya Pertiwi, sebuah kelompok non-profit yang terlibat dalam pengembangan ekonomi warga desa. Kelompok ini memberi bantuan finansial dan pelatihan kepada komunitas yang dibentuk Leribun, dan pada tahun 2015 menunjuk Leribun sebagai manager proyek.

Selain itu, pada tahun 2016, Leribun juga terpilih sebagai salah satu dari 10 “duta petani muda” oleh beberapa NGO, termasuk Oxfam.

Sejak saat itu, ia terlibat dalam kampanye nasional yang mempromosikan pentingnya pertanian bagi orang muda.

Meyakinkan Orang Muda

Banyak orang muda berpikir bahwa petani bukan profesi yang menjanjikan.

Oleh karena itu, banyak orang muda di beberapa desa di Pulau Flores memilih menjadi sopir ojek dan pekerja migran.

“Akibatnya jumlah petani menurun drastis dan mempengaruhi hasil pertanian,” kata Leribun.

Menurut data Kementerian Pertanian, 65 persen dari 26,3 juta petani berusia lebih dari 45 tahun. Dan tidak ada tanda-tanda regenerasi.

Kini tugas Leribun adalah meyakinkan orang muda bahwa petani adalah pekerjaan yang menjanjikan selama mereka tahu cara melakukannya, yakni mengikuti sarannya.

Gregorius Afioma, direktur Sunspirit for Justice and Peace, mengakui bahwa meyakinkan orang muda untuk bekerja di ladang itu tidak mudah karena banyak lahan sudah tidak subur lagi akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan sejak 1980-an.

Ia juga mengkritik pemerintah karena melupakan petani dalam proyek pengembangan wisata yang masif.

“Apa yang dilakukan Leribun menggarisbawahi pengabaian pemerintah,” katanya.

Buah Keberhasilan

Bone Juang, 52, mengatakan bahwa ia bisa memperoleh penghasilan tetap dari beternak sejak mulai bekerja bersama Leribun pada tahun 2012.

Dengan beternak, ia mampu mengirim anak tertuanya ke perguruan tinggi. Anaknya ini, seorang perempuan, sudah lulus tahun lalu. Sementara dua anaknya yang lain masih kuliah.

“Saya beruntung bertemu Leribun,” katanya. “Pikiran saya sangat terbuka tentang bagaimana memanfaatkan peluang untuk mendapatkan uang.”

Keberuntungan serupa dialami oleh Liborius Trisnyoman Bisaend. Ia sempat menganggur. Namun sekarang ia bisa menghasilkan sekitar Rp 900.000 per bulan dari hasil menjual ayam.

“Saya yakin usaha ini menganyam masa depan saya yang lebih cerah,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Saat ini, Leribun terlibat dalam berbagai program pelatihan untuk petani di sejumlah desa. Ia ingin menggandeng semakin banyak orang muda.

“Jalan masih panjang, tapi tidak ada sesuatu yang mustahil,” katanya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here